Pentingnya zat besi untuk bayi

Tahukah ibu bahwa 28,1% balita di Indonesia masih mengalami anemia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013? Salah satu penyebab anemia tersebut adalah karena kekurangan zat besi. Beberapa faktor risiko terjadinya anemia karena kekurangan zat besi ini misalnya berat badan lahir rendah, terlalu banyak mengonsumsi susu sapi segar, kurangnya asupan makanan tambahan yang mengandung tinggi besi, serta status sosioekonomi yang rendah.
Tubuh kita sangat membutuhkan zat besi untuk membuat hemoglobin (sel darah merah), yang membawa oksigen melalui darah ke seluruh sel tubuh. Bila seseorang kekurangan zat besi, maka sel darah merah akan menjadi kecil-kecil, pucat, dan tidak dapat membawa cukup oksigen ke seluruh organ tubuh.
Zat besi sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan cepat sistem saraf pusat dalam periode satu tahun pertama kehidupan bayi. Dalam berbagai penelitian didapatkan hubungan antara anemia karena kekurangan zat besi pada bayi dengan fungsi kognitif serta perilaku yang buruk. Bahkan adanya kekurangan zat besi meskipun hemoglobin masih normal (belum sampai pada tahap anemia) sudah didapatkan penurunan fungsi kognitif dan perilaku.
Ketika bayi tidak cukup mendapatkan zat besi, maka biasanya didapatkan berat badan yang lambat naik, kulit tampak pucat, tidak nafsu makan/menyusu, dan bayi lebih cenderung rewel atau gelisah. Selain itu bayi yang kekurangan zat besi tidak terlalu aktif dan lebih lambat perkembangan kemampuannya.
Bayi sehat dengan berat badan lahir normal memiliki simpanan besi yang cukup. Simpanan besi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi yang bertambah besar dan bertambah volume darahnya hingga bayi tersebut mencapai dua kali berat badan lahirnya, yaitu sekitar 4 hingga 6 bulan usia bayi cukup bulan. Oleh sebab itu, pada periode ini ASI ekslusif dapat memnuhi kebutuhan besi meskipun konsentrasi besi dalam ASI rendah. Setelah usia 6 bulan, bayi membutuhkan tambahan zat besi dari makanan karena saat tersebut bayi mengalami pertumbuhan cepat.
Pada periode ASI eksklusif, pemberian suplementasi besi biasanya tidak direkomendasikan apabila bayi cukup bulan dan sehat. Akan tetapi, karena simpanan zat besi umumnya menjadi menurun pada sekitar usia 6 bulan maka makanan tambahan yang kaya zat besi harus mulai diperkenalkan. Hal ini meliputi produk daging, formula lanjutan yang diperkaya zat besi, dan makanan fortifikasi lainnya seperti sereal. Zat besi yang terdapat di dalam daging termasuk dalam zat besi heme yang lebih mudah diserap oleh tubuh. Sedangkan jenis zat besi lainnya adalah zat besi non-heme yang berasal dari nabati seperi polong-polongan, sayur, dan sereal. Sayur yang mengandung tinggi besi misalnya bayam, brokoli, dan polong-polongan. Untuk membantu tubuh menyerap zat besi, kombinasikan makanan sumber zat besi tersebut dengan makanan kaya vitamin C seperti jeruk, tomat, dan jambu merah. 
(Reviewed and written by dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, SpGK)
 
Referensi:
1. Riset Kesehatan Dasar. 2013
2. Domellof M, Braegger C, Campoy C, dkk. Iron requirements of infants and toddlers. JPGN 2014
3. Trahms CM, McKean KN. Nutrition during infancy. Dalam: Krause’s Food and Nutrition Therapy, edisi 12. Saunders Elsevier, 2008

Baca Juga
Mitos dan Fakta Makanan untuk Ibu Laktasi







Dapatkan artikel kesehatan terbaru

Rangkuman mingguan dikirim secara exclusive ke email Anda.

Terima kasih telah berlangganan, silahkan cek email Anda untuk konfirmasi

Ada sesuatu yang salah





Dapatkan tips kesehatan terbaru via Email

TERIMA KASIH telah berlangganan.

Ada sesuatu yang salah