Laktasi, Problema dan Solusi

Laktasi merupakan keseluruhan proses menyusui, mulai dari ASI diproduksi sampai dengan mengisap dan menelan Air Susu Ibu (ASI). Proses menyusui telah dimulai sejak ibu hamil karena produksi ASI itu sudah dimulai sejak masa kehamilan, bukan saat setelah bayi lahir.  Laktasi sangat penting karena berkaitan dengan ASI. Seperti kita ketahui, ASI merupakan nutrisi terbaik dan terlengkap untuk bayi. 

Nilai nutrisi ASI lebih besar dibandingkan susu formula karena mengandung lemak, karbohidrat, protein da air dalam jumlah yang tepat untuk pencernaan, perkembangan otak dan pertumbuhan bayi. Yang paling penting adalah colostrum yaitu ASI awal yang kaya sekali akan antibody yang diperlukan untuk daya tahan tubuh bayi. 

Namun, menyusui merupakan proses yang cukup komplek. Ada sebagian perempuan yang mengalami kesulitan dalam menyusui, bisa karena produksi ASI yang sedikit atau puting payudara yang tidak menonjol keluar. 

Persoalan laktasi dan solusinya ini dibahas oleh dr. Mira Febriani, SpA, dalam acara Talkshow dan Baby Bazaar yang diselenggarakan oleh Orami, dengan tema Laktasi, Problematika dan Solusinya di RS. Medistra, Jakarta, pada Sabtu (21/10/2007) lalu. 

Menurut dr. Mira, salah satu manfaat penting dari menyusui adalah  terjadinya bonding atau ikatan antara ibu dan bayi.  Lebih lanjut dr. Mira mengatakan bahwa untuk memaksimalkan manfaat menyusui, bayi sebaiknya disusui selama 6 bulan pertama, dan maksimal usia bayi disusui adalah 2 tahun. 

Baca Juga
5 Langkah untuk Kulit Sehat Awet Muda

Ada dua hormon yang berperan penting dalam laktasi, yaitu hormon prolaktin dan oksitosin. Setiap kali bayi mengisap payudara akan merangsang ujung saraf sensoris di sekitar payudara sehingga merangsang kelenjar hipofisis bagian depan payudara untuk menghasilkan prolaktin. Prolaktin akan  masuk ke peredaran darah kemudian ke payudara menyebabkan sel sekretori di alveolus (pabrik ASI) menghasilkan ASI. 

Hormon oksitosin dihasilkan bila ujung saraf di sekitar payudara dirangsang oleh isapan. Beberapa hal yang dianggap dapat meningkatkan produksi hormon oksitosin adalah perasaan bahagia dan kasih sayang pada bayi, celotehan atau tangisan bayi, dukungan ayah dalam pengasuhan dan pijat. “Sedangkan yang dapat mengurangi produksi hormon oksitosin adalah rasa cemas, sedih, marah, kesal atau bingung, dan rasa sakit saat menyusui,” kata dr. Mira. 

Agar proses menyusui berjalan lancar, perhatikan posisi saat menyusui dan perlekatan bayi pada payudara yang tepat. “Posisi yang kurang tepat akan menghasilkan perlekatan yang tidak baik,” katanya. 

Posisi tubuh yang baik saat menyusui adalah posisi muka bayi menghadap ke payudara, perut/dada bayi menempel pada perut/dada ibu. Seluruh badan bayi menghadap ke badan ibu hingga telinga bayi membentuk garis lurus dengan lengan bayi dan leher bayi. Ada kontak mata antara ibu dengan bayi. Pegang belakang bahu, jangan kepala bayi. Kepala terletak di lengan, bukan di daerah siku. 

Baca Juga
Tips Posisi Berhubungan Badan Agar Cepat Hamil

Selain itu, perlekatan yang benar adalah kunci keberhasilan menyusui. Untuk mendapatkan perlekatan yang baik, beberapa hal yang perlu dipehatikan adalah bayi datang arah bawah payuara, hidung bayi berhadapan dengan puting susu, dagu bayi merupakan bagian pertama yang melekat pada payudara, puting diarahkan ke atas langit-langit bayi, dan telusuri langit-langit bayi dengan puting sampai di daerah yang tidak ada tulangnya. 

Untuk menilai kecukupan ASI, biasanya bayi akan relaks dan puas setelah menyusu dan melepas sendiri payudara ibu. Berat badannya juga bertambah lebih dari 500 gram dalam sebulan telah melebihi berat lahir pada usia dua minggu. 

Terpenting dalam menyusui, jangan mudah menyerah, lakukan dengan nyaman dan perasaan bahagia. 

 








Dapatkan artikel kesehatan terbaru

Rangkuman mingguan dikirim secara exclusive ke email Anda.

Terima kasih telah berlangganan, silahkan cek email Anda untuk konfirmasi

Ada sesuatu yang salah





Dapatkan tips kesehatan terbaru via Email

TERIMA KASIH telah berlangganan.

Ada sesuatu yang salah