Kenali Penyakit Alzheimer’s, Jangan Lagi Remehkan Pikun

Pikun – sebuah kata yang tentu tak asing di tengah masyarakat Indonesia, bahkan seringkali diremehkan. Pada umumnya, pikun diasosiasikan dengan populasi lanjut usia, namun benarkan pikun merupakan bagian dari proses normal penuaan?

Seiring bertambahnya usia, berbagai adaptasi dan perubahan tubuh memang tidak dapat terelakkan. Namun, penurunan fungsi memori yang parah bukanlah suatu hal yang normal, melainkan merupakan indikasi dari penyakit Alzheimer’s. Pada tahun 2016, terdapat kurang lebih 46 juta jiwa penderita Alzheimer’s di dunia, dengan 22 juta diantaranya ditemukan di Asia. Walaupun belum ada data resmi untuk jumlah penderita Alzheimer’s di Indonesia, Alzheimer’s Disease International telah memperkirakan jumlahnya mencapai 1,2 juta jiwa pada tahun 2015 serta dapat melonjak hingga dua juta jiwa pada tahun 2030 dan empat juta jiwa pada tahun 2050.

Walaupun usia lebih dari 65 tahun merupakan faktor resiko utama dari penyakit Alzheimer’s, lima persen dari kasus Alzheimer’s dialami oleh orang pada rentang usia 40 sampai 50 tahun. Namun, penyebab pasti dari Alzheimer’s masih dalam penelitian. Saat ini, berbagai studi menyimpulkan adanya interaksi antara faktor genetik, lingkungan, dan pola hidup yang mempengaruhi otak untuk menimbulkan penyakit Alzheimer’s. Gen yang dimaksud pun masih belum dapat ditentukan, namun orang dengan saudara derajat-satu yang memiliki Alzheimer’s beresiko lebih tinggi terhadap penyakit tersebut.

Kondisi genetik lainnya seperti Down’s Syndrome dan mutasi apolipoprotein e4 juga diketahui sebagai faktor resiko penyakit Alzheimer’s. Sedangkan pilihan pola hidup yang sehat, seperti rutin melakukan aktifitas fisik, konsumsi diet sehat, dan sosialisasi yang cukup dapat mencegah berbagai efek negatif penuaan, termasuk penyakit Alzheimer’s.

Dengan adanya interaksi faktor-faktor tersebut, sel otak dapat mengalami kematian dan koneksi antar sel otak yang masih hidup pun melemah, sehingga otak mengalami penyusutan. Observasi di bawah mikroskop dapat menunjukkan tanda-tanda khas dari Alzheimer’s, yaitu plak amiloid dan neurofibrillary tangles. Plak amiloid merupakan gumpalan protein yang dapat merusak komunikasi antar sel, sehingga menyebabkan kematian sel. Sedangkan neurofibrillary tangles adalah bentuk lilitan abnormal dari protein pada otak, sehingga mencegah transportasi suplai nutrisi dan oksigen untuk otak.

Gejala yang dialami pasien Alzheimer’s pun beragam karena bergantung pada bagian otak yang terdampak oleh penyakit tersebut. Namun biasanya otak bagian luar akan rusak terlebih dahulu, sehingga pasien mengalami kehilangan memori jangka pendek. Seiring berkembangnya penyakit, otak bagian dalam pun mengalami kerusakan sehingga pasien juga kesulitan mengingat memori jangka panjang. Selain memori, pasien juga dapat mengalami kesulitan berpikir dan berkonsentrasi, menentukan pilihan, merencanakan sesuatu, dan melakukan aktifitas sehari-hari lainnya. Dengan berbagai bagian otak yang terimbas dampaknya, perubahan perilaku dan kepribadian pun dapat timbul, seperti depresi, mood yang berubah-ubah, agresifitas, dan delusi. Dengan demikian, penyakit Alzheimer’s tentu dapat mengurangi kualitas hidup seseorang.

Terkadang kita pun mengalami beberapa gejala yang disebutkan diatas, seperti lupa tempat menaruh kunci atau sulit berkonsentrasi saat bekerja. Namun, dokter memiliki beberapa tes untuk membedakan penyakit Alzheimer’s dari penyebab kehilangan memori lainnya. Hal utama yang dilakukan dokter adalah menanyakan pasien dan keluarga tentang gejala yang dialami dan informasi penyakit terdahulu. Kemudian, pemeriksaan fisik dan neurologi yang meliputi refleks, kekuatan otot, koordinasi, keseimbangan, penglihatan, dan pendengaran; serta tes kemampuan kognitif juga menjadi pertimbangan diagnosis dokter. Untuk mendukung diagnosis tersebut, dokter dapat menyarankan pasien untuk melakukkan tes lab melalui darah dan urin, serta radiologi dengan computed tomography (CT), magnetic resonance imaging (MRI), atau positron emission tomography (PET).

Meski saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit Alzheimer’s, terdapat beberapa opsi perawatan untuk mempertahankan fungsi mental, mengurangi perubahan perilaku, dan memperlambat perkembangan gejala penyakit. Obat yang paling sering diresepkan adalah inhibitor kolinesterase dan Memantin (Namenda), yang mana keduanya dapat meningkatkan komunikasi antar sel, sehingga memperbaiki gangguan psikis. Obat anti-depresan dan anti-ansietas pun dapat diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien. Namun yang terpenting adalah dukungan dari keluarga dan teman terdekat, seperti mengingatkan pasien untuk meletakkan barang-barang penting di tempat yang sama, menunjukkan foto-foto dan barang dengan memori berharga lainnya, melakukan aktifitas bersama sebanyak-banyaknya, dan lain-lain. Berbagai penelitian pun terus dilaksanakan untuk menemukan terapi yang dapat menyembuhkan penyebab utama dari penyakit Alzheimer’s.

Dengan semakin meningkatnya jumlah populasi lanjut usia di Indonesia, pemerintah perlu melakukan usaha lebih untuk mengedukasi masyarakat tentang penyakit Alzheimer’s dan meningkatkan akses terhadap pengobatan yang tersedia. Pikun bukanlah lagi suatu hal yang dapat diremehkan karena penyakit Alzheimer’s dapat mengenai siapa saja. Inilah saatnya Indonesia “ingat” untuk bersama-sama melawan penyakit Alzheimer’s./salmakyana

Referensi

1. Alzheimer’s Disease Fact Sheet [Internet]. National Institute on Aging. 2017 [cited 27 January 2017]. Available from: <a target="_blank" rel="nofollow" href="https://www.nia.nih.gov/alzheimers/publication/alzheimers-disease-fact-sheet

“>https://www.nia.nih.gov/alzheimers/publication/alzheimers-disease-fact-sheet

2. Alzheimer’s disease [Internet]. Mayoclinic. 2017 [cited 27 January 2017]. Available from: <a target="_blank" rel="nofollow" href="http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/alzheimers-disease/diagnosis-treatment/treatment/txc-20167132

“>http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/alzheimers-disease/diagnosis-treatment/treatment/txc-20167132

3. Menkes: Lansia yang Sehat, Lansia yang Jauh dari Demensia [Internet]. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2016 [cited 27 January 2017]. Available from: <a target="_blank" rel="nofollow" href="http://www.depkes.go.id/article/print/16031000003/menkes-lansia-yang-sehat-lansia-yang-jauh-dari-demensia.html

“>http://www.depkes.go.id/article/print/16031000003/menkes-lansia-yang-sehat-lansia-yang-jauh-dari-demensia.html

4. The global impact of dementia – World Alzheimer Report 2015. Alzheimer’s Disease International; 2015. 

Dapatkan tips kesehatan terbaru via Email

TERIMA KASIH telah berlangganan.

Ada sesuatu yang salah