Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

7 Kondisi yang Bisa Diatasi dengan Botox

Tidak hanya untuk kecantikan, dalam hal ini mengatasi kerut, Botox (botulinum toxin tipe A) juga dimanfaatkan oleh dokter di berbagai bidang seperti neurologi, pediatri, dan bahkan urologi. Berikut ini 7 kondisi kesehatan yang dapat dibantu dengan suntikan Botox:

Kedutan  

Kedutan atau dalam bahasa medisnya blepharospasm adalah kontraksi otot yang tidak terkontrol atau tidak teratur, sehingga menyebabnya terjadinya kontraksi tidak beraturan pada gerakan otot-otot kelopak mata. Orang dengan blepharospasm, kehilangan kontrol pada kemampuan berkomunikasi dengan bagian otak yang mengontrol gerakan mata, yang disebut ganglia basal

Ketika U.S. Food and Drug Administration (FDA) menyetujui tentang perawatan Botox pada tahun 1989, salah satu kegunaan awalnya adalah untuk mengobati blepharospasms..

Botox digunakan sebagai “blokade” di persimpangan neuromuskular, “atau di mana saraf berkomunikasi dengan otot-otot mereka,” jelasnya. Botox memblokir reseptor itu – “situs komunikasi itu” – sehingga memotong akses ke saraf, dan “otot-otot menjadi sedikit lumpuh dari itu.”

Mata juling

Mata juling atau strabismus bisa menjadi masalah bawaan sejak masa kanak-kanak atau bisa saja terjadi karena trauma, seperti terhantam benda tumpul ke area mata. Sementara itu  mata juling dapat disembuhkan dengan operasi. Orang dengan strabismus yang tidak ingin menjalani operasi mata dapat mengambil option suntik Botox untuk mengendurkan otot mata mereka sebagai solusi jangka panjang.

Baca Juga
Fakta dan Khasiat Matcha

Disfonia spasmodik

Disfonia spasmodik ini dianggap sebagai kondisi neurologis yang menyerang pita suara. Orang dengan dysphonia spasmodik menerima sinyal abnormal dari otak dan dapat mengalami kejang yang tidak terkontrol yang mengganggu kemampuan seseorang untuk berkomunikasi.

Air liur berlebih

Botox, juga  mengobati hipersalivasi dengan beberapa suntikan ke kelenjar ludah untuk menghentikan saraf agar tidak  memproduksi air ludah yang berlebih.

Keringat berlebih (hiperhidrosis)

Mereka yang sering banyak berkeringat (hiperhidrosis) di ketiak, tangan, kaki, kepala, atau wajah, suntikan botox telah terbukti menjadi pengobatan yang aman dan efektif. Terbukti mengurangi keringat di area yang disuntikkan sebanyak 87 persen. Dalam kasus keringat pada telapak tangan, botox telah terbukti hingga 90 persen efektif.  

Migrain kronis

Sejak 2010, Botox disetujui untuk dijadikan pengobatan migrain kronis. Suntikan Botox pada pelipis di bagian belakang leher dan di pangkal kepala, untuk mengendurkan otot-otot di area tersebut dan mengurangi rasa sakit tersebut.

Bell’s palsy

Bell’s palsy adalah kelumpuhan saraf wajah yang menyebabkan sebelah wajah lumpuh. Kondisi ini dapat terjadi selama kehamilan, jika seseorang menderita diabetes, atau setelah penularan virus tertentu, seperti penyakit Lyme. Suntikan Botox dapat mengendurkan otot wajah yang lumpuh.

Selain itu, Anda juga perlu mengetahui bahwa selain menggunakan Botox, banyak pilihan lain juga seperti botulinum toxin, seperti Dysport, Myobloc, dan Xeomin.

Baca Juga
Gampang Lapar? Atasi dengan Cara Ini

 

Ditinjau oleh: dr. Adnan Yusuf








Dapatkan artikel kesehatan terbaru

Rangkuman mingguan dikirim secara exclusive ke email Anda.

Terima kasih telah berlangganan, silahkan cek email Anda untuk konfirmasi

Ada sesuatu yang salah





Dapatkan tips kesehatan terbaru via Email

TERIMA KASIH telah berlangganan.

Ada sesuatu yang salah